ACARA PRAKTIKUM 1UJI KANDUNGAN URINE
Kompetensi Dasar
3.9. Menganalisis hubungan antara struktur jaringan penyusun organ pada sistem eksresi dalam kaitannya dengan bioproses dan gangguan fungsi yang dapat terjadi pada sistem eksresi manusia | 4.9. Menyajikan hasil analisis pengaruh pola hidup terhadap kelainan pada struktur dan fungsi organ yang menyebabkan gangguan pada sistem eksresi serta kaitannya dengan teknologi |
Indikator Kompetensi
- Mengatahui cara mendeteksi kandungan glukosa dan albumin pada urin
- Menyimpulkan hasil percobaan uji kandungan glokosa dan albumin pada urine
Tujuan Praktikum
- Peserta didik mampu mengatahui cara mendeteksi kandungan glukosa dan albumin pada urine melalui praktikum virtual
- Peserta didik mampu menyimpulkan hasil percobaan uji kandungan glokosa dan albumin pada urine
A. TEORI DASAR
- Gangguan Sistem Eksresi
Diabetes insipidus
Penyakit pilulusan (banyak kencing), terjadi akibat kekurangan hormon antidiuretik (ADH) sehingga jumlah urine dapat meningkat 20 sampai 30 kali lipat jumlah urin.
Diabetes Mellitus
Penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah sehingga urine yang dihasilkan masih mengandung glukosa. Kadar gula darah yang tinggi disebabkan kekurangan hormon insulin.
Edema
Penyakit yang disebabkan oleh penimbunan air diruang antar seluler
Albuminaria
Penyakit yang ditandai dengan adanya protein dan albumin dalam urine. Terjadinya albuminaria menunjukkan terjadinya keursakan pada alat filtrasi dalam darah.
Batu Ginjal
Suatu endapan garam kalsium di dalam rongga ginjal, saluran ginjal, atau kandung kemih.
Gagal Ginjal
Kegagalan ginjal dalam menjalankan fungsinya.
- Uji Kandungan Urine
Uji kandungan urine seringkali digunakan untuk mengetahui kandungan urine dan untuk mengidentifikasi kelainan ginjal dari hasil pemeriksaan urine. Uji terhadap urin yang dapat dilakukan diantaranya uji kandungan glukosa dan uji kandungan albumin pada urine.
- Uji Kandungan Glukosa pada urine
Glukosa terbentuk dari karbohidrat dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen dalam hati dan otot rangka. Kadar glukosa dipengaruhi oleh 3 macam hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Hormon-hormon itu adalah : insulin, glukagon, dan somatostatin. Glukosa mempunyai sifat mereduksi. Ion cupri direduksi menjadi cupro dan Glukosa darah adalah gula yang terdapat dalam darah yang terbentuk dari karbohidrat dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen di hati dan otot rangka.
Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa. Uji benedict menggunakan larutan fehling ataupun benedict yang berfungsi memeriksa kehadiran gula pereduksi dalam suatu cairan. Larutan benedict yang mengandung tembaga alkalis akan direduksi oleh gula yang mempunyai gugus aldehida dengan membentuk kuprooksida yang berwarna hijau, kuning atau merah. Fehling yang terdiri dari campuran CuSO4 dan asam tartat dan basa, akan direduksi gula pereduksi sehingga Cu akan menjadi Cu2O yang berwarna merah bata. Reaksi benedict sensitive karena larutan sakar dalam jumlah sedikit menyebabkan perubahan warna dari seluruh larutan, sedikit menyebabkan perubahan warna dari seluruh larutan, hingga praktis lebih mudah mengenalnya. Hanya terlihat sedikit endapan pada dasar tabung. Uji benedict lebih peka karena benedict dapat dipakai untuk menafsir kadar glukosa secara kasar, karena dengan berbagai kadar glukosa memberikan warna yang berlainan. Nama Benedict merupakan nama seorang ahli kimia asal Amerika, Stanley Rossiter Benedict (17 Maret 1884-21 Desember 1936).
Pada uji Benedict, pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam gugus aromatik, dan alpha hidroksi keton. Oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif dengan pereaksi benedict. Satu liter pereaksi Benedict dapat dibuat dengan menimbang sebanyak 100 gram sodium carbonate anhydrous, 173 gram sodium citrate, dan 17.3 gram copper (II) sulphate pentahydrate, kemudian dilarutkan dengan akuadest sebanyak 1 liter.
- Uji Kandungan Albumin pada urine
Uji heller digunakan untuk melihat ada tidaknya protein dalam urin. Kehadiran protein ditunjukkan dengan adanya cincin putih dipersimpangan solusi dan asam nitrat pekat. Uji koagulasi merupakan tindak lanjut dari uji heller, yaitu melihat adanya protein berlebih dalam urin. Uji protein ini dapat digunakan untuk mengevaluasi dan memantau fungsi ginjal, mendeteksi, dan mendiagnosis kerusakan ginjal. Prinsip kerja uji enzimatik terhadap ureum adalah indikator phenol red akan berwarna merah dalam kondisi basa dan suhu 60oC adalah optimum enzim urease bekerja. Urea akan dihidrolisis oleh enzim urease menjadi NH3 dan CO2.
Asam sulfosalisilat (disingkat SSA) adalah asam yang digunakan pada tes urin untuk memeriksa kadar protein urin. Zat kimia tersebut menyebabkan pengendapan protein terlarut, yang diukur dari tingkat kekeruhan. Sifat ini yang digunakan untuk menguji kandungan albumin pada urine.
B. Alat dan Bahan
- Komputer / laptop / Smartphone
- Internet
- Laboratorium Virtual Olabs
C. Prosedur Kerja
- Uji Kandungan Glukosa Pada Urine
- Bukalah browser,kemudian masuk ke dalam website olabs (http://olabs.edu.in/ )
- Klik pada menu biology
- Pilih sub menu “Detection of Sugar In Urine”
- Klik pada menu simulator untuk memulai praktikum virtual
- Pilih jenis tes yang akan dilakukan (Uji Fehling atau Uji Bennedict)
- Uji Bennedict
- Tarik pipet yang berisi reagen benedict ke arah tabung reaksi untuk menuangkan reagen ke dalamnya
- Klik tombol burner untuk menyalakannya
- Tarik tabung reaksi ke arah burner untuk memanaskannya
- Amati perubahannya
- Klik “reset” untuk melakukan percobaan ke-2
- Uji Fehling
- Tarik pipet yang berisi reagen fehling A dan Fehling B ke arah tabung reaksi untuk menuangkan reagen ke dalamnya.
- Klik tombol burner untuk menyalakannya
- Tarik tabung reaksi kea rah burner untuk memanaskannya
- Amati perubahan yang terjadi
- Klik “Reset” untuk melakukan percobaan ke-2
- Uji Kandungan albumin pada urine
- Kembali pada menu biology
- Pilih sub menu “detection of albumin in urine”
3.Klik pada menu simulator untuk memulai praktikum virtual
4. Pilih jenis tes yang akan dilakukan (Uji Asam Sulfosilat atau Uji Heller)
- Uji asam sulfosalisilat
- Tarik pipet tetes yang mengandung sulfosalisilat
- Klik tombol burner untuk menyalakannya
- Tarik tabung reaksi ke arah burner untuk memanaskannya
- Amati perubahannya
- Klik “Reset” untuk melakukan percobaan ke -2
- Uji Heller
- Tarik Pipet tetes yang berisi sample urine ke arah tabung reaksi untuk menuangkan sampel ke dalamnya.
2. Amati Perubahannya
3. Klik “Reset” untuk melakukan percobaan ke -2
4. Silakan klik
https://drive.google.com/drive/folders/1WlNaesddaCa6ENwoAWjLwwRdMQvDfhVU?usp=share_link
5. untuk mencatat hasil pengamatan dan laporan praktikumnya.